Kepala Kampung Masuk Sekolah

SMPN 3 Kopang. Gugus kendali mutu yang dilakukan secara terus menurus (continues improvement) merupakan salah satu strategi pendekatan (approach) manajemen untuk memastikan konsumen puas dengan barang atau jasa yang dihasilkan. Perbaikan yang dimaksud tentunya dilaksanakan berdasarkan hasil evaluasi ataupun masukan (input) dari para stake holder dengan tulus dan terbuka. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk selalu  menjaga eksistensi dan kemajuan organisasi, kalau tidak maka organisasi tersebut akan stagnan dan cendrung gulung tikar. Demikian salah satu konsep pendekatan manajemen yang ditawarkan oleh teori Total Quality Management (TQM) yang digagas pertama kali pada tahun 1950-an oleh seorang ilmuan Amerika, Dr.W.Edwards Deminng.

Pendekatan manajemen dan semangat keterbukaan ini pun rupanya dibangun oleh Kampung Media sebagai organisasi yang mengelola media online bagi portal jurnalistik warga NTB. Hal ini terbukti dari setiap pengaduan maupun opini/artikel dan kanal lain yang bersifat masukan (input) dari para warganya selalu dibaca, difikir, dan dikerjakan sesuai salam kampung  yang dikumandangkan di setiap acara Kampung Media. Sebagai salah satu contoh riil perhatian Kepala Kampung terhadap masukan warganya adalah ketika membaca salah satu artikel dari Komunitas Jurnalis Pemula SMPN 3 Kopang yaitu tulisan Rainanda Ade Sukma berjudul “Perjuangan Hidup Sang Serdadu”. Beliau berkomentar dengan mengatakan “Saya bangga dengan Jurnalis SMP3 Kopang.... Teruslah menulis... I Love U Full.... Insya Allah saya akan datang ke sana.“. Ternyata komentar tersebut ditindaklanjuti dengan mengunjungi sekretariat Komunitas Jurnalis Pemula SMPN 3 Kopang pada hari Jum’at tangga 20 Februari 2015.

Kepala Kampung, bapak Fairus Abadi beserta rombongan tiba di sekretariat komunitas jurnalis pemula SMPN 3 Kopang tepat pukul 09.15 wita. Yel-yel Salam dari kampung “Baca...Fikir...Kerja” pun berkumandang menyambut rombongan kepala kampung membuat suasana  acara silaturrahim semakin semarak. Kunjungan kepala kampung kali ini memberikan asupan motivasi yang sangat luar biasa kepada anggota komunitas jurnalis pemula. Mereka kelihatan sangat gembira, raut wajah mereka terpancar rona segar kegirangan karena usaha dan upaya mereka menghiasi setiap kanal dengan hasil tulisan jari-jemari mereka ternyata mendapat perhatian dan penghargaan dari  kepala kampung.

Acara Silaturrahim juga dihadiri oleh beberapa komunitas kampung media lain di antaranya  KM. Sopo Ate, KM. Begibung, KM. Puspalaya dan KM. Jaran Guyang. Mereka sengaja diundang untuk berbagi pengalaman (Sharing) dan memberikan motivasi kepada komunitas jurnalis pemula SMPN 3 Kopang yang relatif lebih muda baik ditinjau dari usia keanggotaan yang baru saja bergabung pada tanggal 28 Nopember 2014 maupun ditinjau dari umur penulisnya yang rata-rata masih sangat belia.

Acara dimaulai tepat pukul 09.30 wita yang diawalai dengan sambutan bapak Kepala SMPN 3 Kopang, yang diwakili oleh wakil kepala sekolah urusan kesiswaan Bapak Erdani Suratman, S.Pd. Dalam sambutannya beliau mengatakan “ kami sangat berterima kasih atas kedatangan bapak kepala kampung beserta rombongan di sekretariat komunitas jurnalis pemula kami. Kunjungan bapak kepala kampung merupakan penghargaan yang sangat tinggi untuk komunitas kami, yang tentunya akan dapat menginspirasi dan menjadi motivasi bagi anak-anak kami untuk terus berkarya memberikan informasi-informasi positif melalui tulisan-tulisan mereka”.

Selanjutnya beliau sangat berterima kasih, bahwa dengan kehadiran kampung media, program-program sekolah khususnya dalam pengenalan IT, siswa-siswi sangat terbantu karena mau tidak mau ketika mereka memposting tulisan, maka mereka harus mengirimnya melalui  internet. Di samping itu, keberadaan kampung media dapat dijadikan sebagai media pembelajaran autentik untuk  kegiatan ekstrakurikuler bidang jurnalistik, dan yang tak kalah pentingnya adalah hadirnya kampung media dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi anak-anak  untuk menambah wawasan dan pengetahuan ”, demikian imbuh bapak wakil kepala sekolah.
 Pada akhir sambutan, beliau menyampaikan permohonan maaf apabila dalam proses penyambutan sampai pada pelayanan selama berlangsungnya acara terdapat kekurangan.

Sambutan Kepala sekolah berlangsung sekitar 10 menit kemudian dilanjutkan dengan acara sambutan dari Bapak Kepala Kampung, Bapak Fairus Abadi. Pada intinya beliau sangat mengapresiasi inisiatif  para awak Komunitas Jurnalis Pemula SMPN 3 Kopang yang terus  berkreasi dan berinovasi untuk kemajuan Kampung Media ke depan. Ucapan terima kasih dan bangga terlontar kepada para jurnalis pemula yang telah menghiasi setiap halaman kampung media dengan ide-ide brilian melalui tulisan- tulisannya.
Beliau memotivasi  para awak komunitas jurnalis pemula SMPN 3 Kopang, bahwa kedahsyatan menulis mampu menjinakkan fikiran-fikiran kita. Ketika kita merasa kalut, gembira, sedih, marah ataupun kesal, maka tumpahkan dalam tulisan. Dengan tulisan kita bisa menyampaikan ide, gagasan dan informasi kepada orang yang tak terbatas jumlahnya dengan biaya yang lebih murah jika dibandingkan dengan menyampaikan informasi dengan lisan (berbicara).

Dipertegas lagi, bahwa “menghebatkan orang besar itu hal biasa, namun menghebatkan orang kecil itu sangat luar biasa”. Artinya bahwa apabila beliau mampu memotivasi dan membimbing anak-anak komunitas jurnalis pemula SMPN 3 Kopang menjadi para jurnalis yang  profesional maka itulah yang luar biasa. “Bisa dibayangkan kalu kualitas tulisan mereka sekarang  sudah sebagus ini, apalagi kalu benar-benar sudah menjadi jurnalis maka saya yakin anak-anak bisa menjadi jurnalis TV One, atau jurnalis Metro TV ataupun di TV nasional lainnya”, demikian imbuh bapak kepala kampung.
Di penghujung sambutan bapak kepala kampung menegaskan bahwa apabila ikut menjadi warga kampung media berarti kita kembali mengikuti apa yang telah disunahkan Rasullullah yaitu Iqro’ karena inti dari Iqro’ adalah Baca, Fikir, Kerja. Oleh karena itu beliau mengharapkan agar informasi tentang kampung media terus disebarluaskan sehingga kampung media akan menjadi portal jurnalistik warga NTB  yang bukan saja menasional namun akan go intenasional. Pada akhir sambutan, beliau menyerahkan kenang-kenangan berupa bingkisan yang berisi sebuah kamera digital dan beberapa buku serta majalah yang berisi  tentang berita-berita seputar NTB. Harapan beliau semoga kenangan-kenangan tersebut akan bermanfaat bagi komunitas jurnalis pemula SMPN 3 Kopang.

Sebelum acara silaturrahim ditutup dilanjutkan dengan acara diskusi. Pada kesempatan ini peserta silaturrahim diberikan kesempatan untuk bertanya atau memberikan masukan kepada bapak kepala kampung. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh dua orang anggota komunitas jurnalis, mereka adalah Baiq Inanda dan Rainanda ade Sukma. Inti pertanyaan mereka adalah bagaimana strategi wawancara agar informasi yang diperoleh bisa maksimal. Sebelum menjawab kedua pertanyaan tersebut, bapak kepala kampung memuji pertanyaan yang dilontarkan oleh kedua anak tersebut karena pertanyaan mereka  layaknya pertanyaan seoarang junalis profesional. Pernyataan beliau disambut dengan tepuk tangan oleh para hadirin. Sesaat bapak kepala kampung berfikir, lalu menjawab  dengan enteng “ada dua jenis tulisan yaitu jenis fiksi dan non fiksi. Kalau tulisan fiksi seperti yang ditulis adik-adik tidak perlu melakukan wawancara, kalaupun ada wawancara, akan lebih baik untuk memperkuat berita” .

Selanjutnya acara diskusi dimanfaat juga oleh KM. Begibung dan KM. Sopo Ate untuk memberikan masukan kepada kepala kampung dalam rangka menambah kebermanfaatan kampung media bagi warganya. Adapun masukan KM. Begibung adalah bagaimana ke depan kampung media bisa  membuka rekening donasi dalam rangka memfasilitasi para donatur memberikan donasinya untuk biaya pembangunan masjid, kegiatan-kegiatan sosial, dana pendidikan dan lain-lain. Sementara KM. Sopo Ate meminta kepada kepala kampung menerbitkan kartu pengenal anggota kampung media sebagai identitas untuk memudahkan kegiatan wawancara. Ternyata ulan-usulan tersebut telah menjadi hidden program bagi kampung media yang akan direalisasikan pada tahun 2018 yang akan datang.

Tidak terasa acara silaturrahmi berlangsung kurang lebih 2 jam. Waktu terasa begitu singkat hal ini disebabkan karena sambutan bapak kepala kampung yang begitu memukau. Setiap untaian kalimat yang terlontar penuh filosofis dan sarat makna serta sangat inspiratif  membuat semua yang hadir terhipnotis. Sesekali keheningan terpecah oleh gelak tawa para  hadirin karena humor-humor khas beliau yang menggelitik membuat suasana semakin terasa rileks dan menyenangkan sehingga semua hadirin tak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya. Harapan para warga komunitas jurnalis pemula SMPN 3 Kopang agar bapak kepala kampung bisa hadir di tengah-tengah mereka pada kegiatan-kegiatan yang akan datang, karena kehadiran beliau dapat memberikan  motivasi sekaligus pencerahan untuk kemajuan komunitas jurnalis pemula SMPN 3 Kopang. (Zul) - 05

Kisah Nyata, Tulang Ikan Bisa Tumbuh

Kisah ini bermula dari pamanku yang tinggal di dusun Mumbang Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah. Pamanku ini sangat suka sekali memancing ikan, pada suatu hari paman pergi memancing di sungai yang dikenal angker oleh masyarakat yang tinggal di dekat sungai tersebut, tetapi paman tidak peduli dengan desas-desus tentang tempat itu, dan dengan cueknya paman berangkat menuju tempat itu yang diprediksi oleh paman pasti ikannya banyak karena jarang orang memancing dilokasi tersebut. Setibanya di tempat itu, paman lalu mencari tempat duduk yang nyaman sambil menyiapkan umpan dari cacing tanah yang masih hidup dan menggeliat-geliat seolah tak rela dijadikan korban para ikan kelaparan. Setelah beberapa saat umpan dipasang, dengan sigap paman langsung melempar ketempat yang diperkirakan ikan-ikan tersebut banyak berkumpul. Setelah beberapa saat menunggu sambil menikmati sebatang rokok yang sudah disiapkan, akhirnya pelampungpun mulai bergerak mengisyaratkan umpan mulai dilirik dan dimakan si ikan. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk menarik gagang pancing, pamanpun seolah komat-kamit seakan membaca sebuah mantra yang akan membuat ikan tak berdaya dimata kail yang tersembunyi dibalik umpan. Akhirnya pengalaman dan keliahaian pamanpun menundukkan kelincahan ikan yang terpancing dengan umpannya, dan akhirnya ikan pun tak berdaya samapi masuk kedalam bosang (tempat hasil tangkapan ikan yang terbuat dari bambu).


“Lumaya...’ ungkap pamanku terdengar bahagia karena mendapatkan hasil yang cukup besar. Setelah itu lalu paman mencoba keberuntungannya untuk kedua kalinya, namun seolah sang ikan telah menyadari kehilangan temannya yang telah terpancing umpan yang berkail tajam, dan berusaha menjauh dari asa sang pemburu ikan. Menyadari situasi yang mulai kurang bersahabat dengan keberuntungannya, sang pamanpun memutuskan menghentikan ambisinya untuk mendapatkan ikan yang lebih Karena merasa perutnya sudah mulai tidak kompromi karena kosong belum terisi sejak tadi pagi. Selanjutnya pamanpun mulai bergegas pulang menyusuri pematang sawah dan semak-semak belukar yang tumbuh rimbun diantara lebatnya pepohonan di kebun kayu milik warga kampung sebelah.


Sesampainya dirumah, paman langsung bertindak bak koky berpengalaman. Tidak sampai beberapa menit ikanpun mulai berenang diatas genangan minyak goreng yang mulai bergemuruh karena panasnya. Beberapa saat setelah ikan mulai matang, pamanpun tidak sabaran untuk menyantap hasil tangkapannya, dan memanggilku untuk menemaninya makan.


Setelah selesai makan, paman memintaku untuk membereskan piring, sedangkan sisa-sisa tulang ikan paman sendiri yang membawanya dan menanamnya untuk menghindari bahaya dari tajamnya duri-duri tulang yang bisa menusuk telapak kaki. Keesokan harinya, paman tidak sengaja melihat ada sesuatu yang ganjil dari tempat dia menimbun tulang ikan tersebut, ternyata setelah diperiksa secara teliti tulang ikan yang ditimbunnya kemarin tumbuh menjadi sebuah pohon jambu batu yang awalnya tidak tidak terdapat ditempat tersebut. Karena panik, pamanpun segera memanggil-manggil keluarga untuk menyaksikan kejadian ganjil dan aneh itu, sambil menceritakan kronologis kejadiannya. Kejadian inipun mulai jadi perbincangan dan membuat banyak masyarakat berbondong-bondong menyaksikan kejadian unik tersebut. Dan beberapa dari mereka yang meyakini dan percaya dengan cerita si paman, mengambil daun dari jambu tersebut untuk dijadikan obat. Dan beberapa orang yang mencoba memanfaatkannyapun ada yang menyatakan itu pohon ajaib dan membawa berkah. Sampai sekarang pohon itu masih ada, berbuah dan tumbuh subur dan makin banyak yang mencoba khasiat dari daun dan buahnya menjadi obat bagi penyakit yang mereka derita.


Akhirnya, mari kita mengambil hikmah dari kejadian ini. Bahwa semua dari Alloh dan kembali padaNya. Hanya Alloh sang penurun penyakit, mengadakan obatnya, dan menghilangkan penyakitnya. Tidak ada kekuatan selain kekuatannya.

Kejadian di atas hanya keajaiban kecil yang terjadi dari banyak kajaiban di dunia ini. Maka janganlah dijadikan menjadi sesuatu yang meragukan kehendakNya. [] - 03





 Penulis : Risna Hauli (Anggota Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang)

Sejarah Dusun Montong Bulok

Di Lombok Tengah, tepatnya di kec.Kopang desa Montong Gamang, ada sebuah dusun atau kampung kecil yang namanya Montong Bulok. Di kampung ini, rakyatnya hidup damai dan tentram meskipun jumlah penduduknya tergolong padat, dengan lokasi yang cukup strategis karena terbelah oleh jalan umum yang cukup lebar.

Tentang asal usul namanya, Kata Montong Bulok berasal dari bahasa sasak yaitu Montong dan Bulok. Montong berarti seebuah dataran tinggi, dimana di dataran tinggi ini banyak penduduk yang membangun rumah di sana, hingga terlihat seperti membentuk gunung kecil, dan Bulok itu berarti bambu kecil yang panjang dan mempunyai lubang yang besar, dulu bambu-bambu itu banyak di lihat dan ditemukan hampir memenuhi setiap sudut kampung ini, hingga terlihat tumbuh melingkar diantara rumah-rumah penduduk. Tetapi sekarang bambu-bambu itu sudah mulai berkurang karena semakin padatnya jumlah penduduk dan banyaknya bangunan-bangunan baru dilokasi dimana bambu-bambu tersebut tumbuh subur.

“Bagi mereka, berkurangnya rumpunan bambu yang mengilhami nama kampung tersebut tentu membuat mereka merasa sedih, namun perubahan haruslah terus berjalan mengikuti perkembangan zaman yang diikuti dengan semakin banyaknya manusia-manusia baru lahir sebagai penghuni kampung tersebut, dan kelak sejarahnya akan tetap terkenang sebagai simbol lahirnya kampung tersebut. Biarlah bambu menghilang digantikan dengan damai dan tenteram dihati para penduduk Montong Bulok”

Semoga tulisan yang singkat ini menjadi goresan abadi yang akan dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui asal –usul lahirnya dusun Montong Bulok. [] - 01

Penulis : Mitha dan Bq.Purwa Setya Negari (Anggota Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang)

Penyesalan Tak Berujung

Ada seorang anak laki-laki yang sangat nakal, namanya Nasip, dia termasuk keluaga yang kurang mampu. Dia tidak pernah menuruti kata ibu bapaknya, kalau dia di nasehati dia selalu melawan. pada suatu ketika Nasip pergi berangkat sekolah, dia selalu melihat teman temannya naik motor kalau berangkat dan pulang sekolah . Dan ahirnya si Nasip meminta ibu dan bapaknya untuk membelikannya sepeda motor tetapi ibu dan bapaknya menolak permintaan Nasip, karna untuk biaya makannya saja belum cukup. Nasip pun marah dan mendorong ibunya sampai terjatuh dan Nasip langsung masuk ke kamarnya, ibu Nasip lansung menghampiri Nasip ke kamarnya dan menyuruh Nasip untuk berangkat sekolah tetapi Nasip tidak memperdulikan ibunya . Ahirnya ibu Nasip menitip pesan pada Nasip supaya dia rajin menuntut ilmu untuk masa depannya, Nasip tetap mengabaikannya. Dan dari sana Nasip tidak sering masuk sekolah, sering bolos, sering mabuk-mabukkan. Melihat hal, itu ibu Nasip langsung memarahi Nasip tetapi Nasip melawannya. ibu Nasip tetap bersabar dan selalu menasehati Nasip supaya tekun belajar. pada suatu ketika ibu Nasip tiba tiba menghampiri Nasip dan duduk di samping Nasip. tak banyak bicara ibunya Nasip langsung meminta ma'af kepada Nasip karna tidak bisa menuruti keinginan Nasip tetapi Nasip tetap cuek dan langsung meninggalkan ibunya. tak lama kemudian pak RT datang dan memberi informasi kalau bapaknya Nasip di tabrak mobil saat hendak pergi ke pasar untuk mencari nafkah. Ahirnya bapaknya Nasip mati di tempat. Karna mendengar informasi tentang itu, ibu Nasip langsung syok dan tiba tiba terbaring lemah. ibunya Nasip pun sakit dan tidak ada sama sekali yang merawatnya sedangkan Nasip gak pernah pilang sudah beberapa hari dan warga sekitar tidak tau kalau ibunya Nasip sakit. Ahirnya ibu Nasip pun meninggalkan dunia untuk selam-lamanya, warga sekitar baru tau kalau ibunya Nasip sudah meninggal setelah badan ibunya Nasip sudah membusuk ahirnya ibunya Nasip langsung di kuburkan. saat Nasip pulang ke rumahnya, Nasip tidak menemukan siapa pun di sana, dia belum tau kalau kedua orang tuanya sudah tiada. di rumahnya itu sangat kotor dan gak ada sama sekali makanan untuk di makan Nasip. seketika itu, Nasip di beritahu oleh tetangganya kalau kedua orang tuanya sudah tiada. Setelah mendengar informasi tentang itu Nasip langsung menyesali perbuatannya dan mencari kubur kedua orang tuanya, di sana dia menangis dan meminta ma'af kepada kedua orang tuanya. tidak banyak berfkir, Nasip berusaha mencari pekerjaan tetapi tidak ada satu pun orang yg menerimanya karna kemalasan dan kebodohannya. Ahirnya Nasip frustasi dan Nasip hanya bisa melamun dan menyesali perbuatannya.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi teman-teman untuk senantiasa rajin belajar dan berbakti kepada orang tua. [] - 05
Penulis : Intang Rahayu (Anggota Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang)

Prospek Kampung Media di Masa Depan

No day goes by without thinking about interesting idea to be written. Itulah virus positif yang sedang saya tularkan saat ini pada anak-anak anggota Jurnalis Kampung Media SMPN 3 Kopang dan kawan-kawan guru yang tertarik mengikuti perkembangan portal kampung media.

Kata virus di atas memang sengaja penulis gunakan sebagai korelasi terhadap para penggiat dan penulis Kampung Media sebagai ujung tombak eksistensi dan keberlanjutan Kampung Media di masa depan.
Memandang eksistensi kampung media sebagai sebuah program, maka sudah barang tentu membutuhkan pengelolaan (management) yang baik, jika berharap keberadaannya tetap langgeng.

Berbicara manajemen, penulis yakin bahwa Kampung Media sudah jauh berfikir tentang hal tersebut. Apalagi didukung penuh oleh pemerintah Provinsi NTB, sehingga memudahkan sosialisasinya di setiap SKPD baik di tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten/kota. Hal tetsebut dapat kita lihat dari tulisan-tulisan yang masuk pada kolom artikel pilihan maupun headline dalam berbagai kanal.

Tetapi, hal itu belumlah cukup untuk menjaga keberlanjutan kampung media di masa depan.
Dari hasil diskusi kami (KM.Puspalaya,KM.Begibung, dan KM.Sopo Ate) tentang prosfek kampung media dimasa depan. Kampung Media sebagai salah satu wadah dan sumber belajar sangatlah produktif jika keberadaan Kampung Media tidak hanya menjadi wadah dan sumber belajar mereka para orang dewasa yang saat ini aktif menulis dan membuka bolg-blog di kampung media. Tetapi para siswa dan siswi serta para guru-guru di sekolah adalah salah satu ladang produktif untuk membangun generasi-generasi penulis baru yang jangkauan lebih luas dan massif dibandingkan dengan lembaga-lembaga/komunitas-komunitas yang karya dan keberadaannya kadang tidak diketahui dilingkungan dimana mereka tinggal.

Untuk itulah melalui tulisan ini, penulis mencoba sedikit berbuat karena melihat potensi tersebut di atas. Disamping sebagai wadah bagi para siswa/siswi untuk memancing dan mendorong mereka agar berpacu dalam belajar secara autentik. Tentu saja, keberadaan Kampung Media ini secara tidak langsung mendorong mereka untuk banyak membaca dan membaca, berfikir dan berfikir, sampai pada akhirnya menghasilkan tulisan-tulisan dari hasil baca dan berfikir mereka.

Untuk simbolisasi motivasi mereka, tanggal 5 Februari 2015 lalu mereka secara resmi dilantik sebagai Anggota Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang yang disambut dengan wajah sumeringah seakan-akan mereka berkata “ini saatnya, akan saya buktikan bahwa saya juga bisa”.  

Keterlibatan dan keaktifan siswa/siswi di Kampung Media tentu akan menjadi warna baru dan regenerasi di masa depan. Menitipkan kebanggaan di dada mereka merupakan salah satu strategi me-masyarakat-kan Kampung Media. Sebab cerita mereka tentang apa yang mereka tulis di Kampung Media tidak hanya akan berhenti dianggota keluarga mereka, tetapi teman bermain, kerabat, bahkan adik-adik kelas mereka yang masih belum mengerti pun akan mereka ceritakan tentang kiprah mereka di Kampung Media.

Begitupun para guru di sekolah, alangkah luar biasanya dimata siswa/siswinya ketika sang guru bercerita tentang tulisannya yang masuk headline dan dibaca ribuan orang di seluruh dunia, sehingga sang muridpun akan terinspirasi dan termotivasi untuk setidaknya belajar membuka dan melihat portal kampung media.

Mari kita telisik Kampung Media 5 tahun kedepan. Jika hari ini seluruh sekolah di Nusa Tenggara Barat tingkat SMP/Mts dan SMA/SMK, 3% saja para siswanya  membangun kamunitas Jurnalis di sekolah mereka, maka 2 tahun kedepan Portal Kampung Media dijamin akan berubah wajah menjadi lebih elok dan elegan dimata dunia, dan dapat dipastikan akan menjadi satu-satunya media yang memiliki jurnalis terbanyak di dunia. (rekor MURI di depan mata).

Perihal di atas tentu tidak mudah, karena butuh sumber daya yang tidak sedikit. Tetapi itu bukan perkara mustahil karena Kampung Media menurut informasi Pak Masyhuri (KM.Sambang Kampung) saat ini memiliki anggota komunitas kurang lebih 300 anggota. Hal ini tentu akan memudahkan sosialisasi dan edukasi bagi sekolah-sekolah yang ditarget sebagai titik-titik pengembangan program.

Semoga tulisan ini menjadi masukan bagi manajemen kampung media, untuk 
pengembangan generasi kampung media di masa depan.(hery) - 05

Cerita Mistis Dibalik Masjid Tua Pengkores

Di sebuah dusun yg bernama Pengkores, tepatnya di Desa Kopang Rembige kecamatan Kopang kabupaten Lombok Tengah, berdiri sebuah masjid tua yg bernama masjid Al-Badawi. Menurut beberapa narasumber yg kami temui, dikatakan bahwa masjid Al-Badawi dibangun pada tahun 1927 kurang lebih 88 tahun yang lalu. Alkisah pada waktu itu masjid Al-Badawi berukuran kecil dan sangat sederhana, dimana jendela dan sebagian temboknya dibuat dari bedek (anyaman bambu), namun keadaan tersebut tidaklah berlangsung lama, setelah lokasinya diperbaharui/digeser oleh Haji Saleh atau Tuan Guru Opal dengan tujuan agar masjid Al-Badawi posisinya tepat dan searah dengan arah kiblat (Ka’baitulloh).

Pada saat itu bapak haji Saleh membawa segenggam tanah yang telah dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari desa kelahirannya desa Opal dengan tujuan agar masjid Al-Badawi terhindar dari berbagai perihal buruk. Setelah dipindahkan, masjid Al-Badawi sering direnovasi, namun khusus mimbar (tempat imam memimpin sholat berjama’ah) tetap dibiarkan seperti sediakala, sehingga batu-bata yang digunakan pada saat pertama kali dibangun masih utuh tidak pernah diganti. Konon pernah beberapa kali dicoba untuk diperbaiki, namun ada saja kendala/kejadian yang diyakini oleh beberapa tokoh agama dan masyarakat sebagai pertanda bahwa mimbar tersebut tidak boleh dirubah. 

Hal inilah yang menjadi alasan sampai saat ini mimbar masih berbentuk seperti bentuk ketika pertama kali dibangun. Menurut keterangan narasumber, almarhum bapak TGH. Maulana Syekh Abdul Majid semasa hidupnya seringkali ketika pulang dari musafirnya, beliau menyempatkan diri untuk mampir menunaikan sholat di masjid Al-Badawi, selain itu beliau juga sering diundang memberikan taushiah dan bercerita tentang sejarah dan karomah masjid Al-Badawi yang menurut pengetahuan beliau konon sering disinggahi oleh para wali untuk melakukan Shalat berjama’ah disana, karna cerita beliaulah para warga dari daerah-daerah luar dusun Pengkores berbondong-bondong berkunjung menuju masjid Al Badawi untuk Shalat dan melaksanakan i’tikaf disana.

TGH. Maulana Syekh Abdul Majid juga pernah menyampaikan cerita tentang adanya sebuah telaga yang ditumbuhi oleh bunga Tunjung (Teratai) yang selalu mekar dan tidak pernah kuncup di depan masjid Al-Badawi. Menurut narasumber selain cerita tentang para wali yang sering sholat di sana, konon katanya sering terjadi hal-hal gaib, seperti kisah Amaq Alin, Marbot (penunggu masjid) yang pernah dikagetkan oleh seorang nenek yang menggigitnya ketika dia sedang tidur diteras masjid, dan cerita amaq Uji, seorang paranormal yang pernah melihat sosok besar berjubah putih berpesan kepadanya untuk memercikan air suci disekeliling masjid.

Begitulah sejarah tentang masjid tua yg telah berdiri selama puliuhan tahun silam, dengan semua cerita mistisnya. "Namun semua kembali kepada kita sebagai hamba Alloh yang beriman. Masjid adalah rumah Allah, tempat yang dibuat manusia untuk beribadah kepadaNya, maka jika ada kisah maupun cerita tentang hal-hal ghaib yang terjadi, semua itu atas kehendak Alloh. Dan kita sebagai hambanya wajib percaya dan mengimani bahwa hal-hal ghoib itu benar adanya. Namun jangan sampai kita menjadikan mahluk ghaib menjadi sekutu-sekutu Alloh.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah kemistisan masjid Al-Badawi ini, sehingga tujuan Ibadah kita tidak menjadi melenceng dari garis yang telah ditetapkan Alloh dan RosulNya. Insya Alloh [] - 05


Penulis : Tim I Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang an.Elis Novitasari, Husnul Khotimah Nuning Ayu Resma, Susi Lastia Elmaya, dan Rainanda Ade Sukma.

Sejarah Dusun Lingkoq Bakeq

Puluhan tahun silam, ada sebuh dusun terpencil yang berlokasi di tengah-tengah hamparan sawah. Dusun itu sekarang bernama Dusun Lingkoq Bakeq yang dalam peta pemerintahan Lombok Tengah masuk sebagai wilayah pemerintahan kecamatan Kopang. Dusun itu mempunyai cerita yg cukup misterius yang sampai sekarang belum bisa terungkap dengan jelas.

Alkisah, pada suatu hari, ketika sang surya tepat memancar di atas kepala menjelang waktu sholat zuhur tiba, ada seorang laki-laki setengah baya warga dusun setempat, melintasi hamparan sawah melewati pematang-pematang kecil yang ditumbuhi rumput-rumput hijau nan alami dengan tujuan yang tak jelas. Ia terus berjalan melewati lekukan-lekukan sawah seolah merasa dialah pemilik hamparan sawah-sawah hijau tersebut. Setelah beberapa lama kaki melangkah, dia dikejutkan oleh sebuah Lingkoq tua yang masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Lingkoq yang selama ini sepengetahuannya lingkoq tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Lingkoq itu memiliki air yang sangat jernih seolah menawarkan diri untuk menyatu dengan mereka yang melihatnya.

Tidak lama kemudian, laki-laki tersebut tampak tertarik untuk mandi di Lingkoq tua yang terlihat angker itu. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu kemudian
langsung melepas kain yang menempel di badannya. Ajaibnya tiba-tiba di sampingnya sudah ada sebuah Jejai (gayung) dari tempurung kelapa yang berwarna keemasan. Singkat cerita, setelah beberapa lama ia menikamati kesejukan air Lingkoq tersebut, ia baru tersadar bahwa ada yang aneh dengan apa yang dialami, lalu kemudian dengan cepat ia berhenti mengguyur tubuhnya.


Setelah ia memakai pakaiannya kembali, Lingkoq itupun menghilang entah kemana, tak berbekas persis seperti permainan sang pesulap yang sering saya lihat di Televisi, dan lokasi tersebut nampak biasa saja layaknya lokasi lain yang ditumbuhi rumput-rumput hijau nan asri. Laki-laki tersebut sangat heran kenapa Lingkoq itu menghilang begitu saja, padahal baru saja digunakannya mandi, bahkan tubuhnya masih terasa dingin akibat guyuran dari Jejai emas yang digunakan mandi. Ia merasa was - was dan memutuskan untuk tidak berlama - lama di tempat itu. Dengan cepat ia kembali ke rumahnya, dan menceritakan tentang kejadian yang dialaminya.

Menghilangnya Lingkoq tua angker itu, sampai sekarang masih menjadi perbincangan dan belum ada satu orang pun yang mendapatkan pengalaman seperti pengalaman laki-laki tersebut. Konon, orang yg dapat melihat Lingkoq itu hanya orang yg pernah mandi di Lingkoq tua tersebut. Namun ada beberapa warga yang tinggal di sekitar lokasi tersebut sering mendengar suara gemuruh ngaungan sapi di dekat lokasi lingkok angker tersebut diceritakan. Dan sampai saat ini masih tetap angker dan diyakini oleh masyarakat setempat sebagai Lingkoknya Jin yang mereka kenal dengan sebutan Bakeq.
Inilah dasar masyarakat merubah nama dusun tersebut dari nama Dusun Repok menjadi dusun Lingkoq Bakeq.

Semoga cerita ini menjadi khasanah budaya bagi generasi di masa depan, agar mereka mengetahui sejarah dinamakannya kampung mereka.[] - 05


Penulis :
Tim II Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang
Anggota : Lilik Nurliana Fitri (Co), Nurul Hidayati, Ayu Citra, Nurul Selfiani dan Arni

Manfaat Pasar Liar di Dusun Embung Karung

Pasar resmi adalah tempat berjualan umum yang ditetapkan oleh pemerintah daerah yang merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli untuk mengadakan penawaran dan permintaan terhadap barang dan jasa. Sedangkan pasar liar/tidak resmi memiliki fungsi yang sama dengan pasar resmi hanya statusnya yang berbeda yaitu ilegal.
Diakuinya status sebuah pasar oleh pemerintah berarti pasar tersebut cenderung disiapkan dan dibuat atas dasar prakarsa pemerintah melalui program-programnya. Biasanya dibuatnya sebuah pasar didasarkan atas kesepakatan dari rembuk warga masyarakat yang diusulkan melalui musrenbangdes di tingkat pemerintah desa yang dilanjutkan ketingkat kecamatan sampai ke tingkat kabupaten/provinsi. Jika usulan masyarakat tersebut diterima, barulah akan ada tindak lanjut melalui jumlah pendanaan yang setujui oleh para anggota dewan di daerah.

Terlepas dari status resmi ataupun tidak resmi, jika sebuah pertemuan berlangsung secara tidak sengaja atau sengaja berdasarkan kesepakatan beberapa penjual, maka cikal bakal sebuah pasar akan bisa terbentuk. Hal tersebut tentu berangkat dari sebuah kebutuhan terhadap setiap kegiatan ekonomi yang kurang tersalurkan, bisa saja diakibatkan oleh jauhnya pasar-pasar yang sudah ada/resmi dibangun oleh pemerintah.
Munculnya pasar tidak resmi/liar sekitar 2 bulan lalu di dusun Embung Karung desa Montong Gamang Kecamatan Kopang, salah satunya disebabkan oleh jauhnya pasar Jelojok dan Beson sebagi pasar resmi.

Adanya pasar liar ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat terutama warga yang bertempat tinggal dekat dengan pasar, selain dekat tentunya akan mudah bagi mereka untuk berbelanja dan tidak membuang ongkos yang mahal untuk pergi ke pasar yang lumayan jauh, lebih-lebih dengan adanya dampak kenaikan BBM.
Status liar bukan berarti berbeda dengan pasar-pasar secara umum, aturannya tetap sama dimana pembeli bebas menawar dan penjual bebas menentukan harga, sampai titik kesepakatan harga tercapai (titik equilibrium).

Keberadaan pasar ini diawali oleh beberapa penduduk setempat yang  usahanya berdagang bahan makanan pokok mencoba untuk berjualan di dekat mesjid Muhajirin Embung Karung, saat itu banyak anggota masyarakat yang tertarik dan merasa ada kemudahan dengan munculnya inisiatif dari beberapa pedagang tersebut. Informasi inipun mulai menyebar sehingga seiring waktu berjalan pedagangnya semakin bertambah dan pembelinyapun tidak kalah ramai.

Awalnya inisiatif mereka sempat ditentang oleh beberapa anggota masyarakat yang peduli kebersihan sekitar embung (waduk), tetapi dengan dukungan para remaja Dusun Embung Karung mereka disarankan untuk berjualan di lapangan dekat danau yang cukup luas, agar bisa lebih hidup dan berkembang.

Setelah berjalan beberapa minggu, kegiatan pasar liar inipun berhembus sampai ketelinga kepala desa montong Gamang. Dengan didampingi oleh ketua remaja embung karung salah seorang perwakilan pedagang meminta kepada bapak kepala desa untuk menerbitkan ijin dari desa agar kegiatan pasar tersebut menjadi resmi. Saat itu usulan mereka tidak langsung direstui, sehubungan dengan masih adanya beberapa pihak yang kurang setuju lokasi dekat embung digunakan untuk pasar, sebab dikhawatirkan akan mengotori dan mencemari kebersihan embung dan menimbulkan penumpukan sampah yang dapat menngakibatkan luapan air embung kedimusim penghujan.

Namun setelah melalui rembuk dan kespakatan-kesepakatan antara masyarakat dengan pihak pemerintahan desa, mereka baru akan diizinkan untuk melanjutkan kegiatan pasar tersebut jika mereka siap dan setuju menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi kedalam embung.

Dengan pertimbangan banyaknya masyarakat yang terbantukan berkat adanya pasar tersebut, secara tidak langsung ekonomi dan kesejahteraan masyarakat juga pasti akan bertambah, sebab uang yang beredar di dusun embung karung tentu akan stabil bahkan bisa menjadi pemicu datangnya konsumen/pelanggan dari dusun diluar embung karung.
Akhirnya setelah dipertimbangkannya, bapak kepala desa memberikan izin untuk membuka pasar tersebut tentunya dengan alasan yang kuat para pedagang harus bersedia membersihkan sampah setelah pasar selesai di adakan.

Denga itulah sampai sekarang pasar tersebut tetap berjalan dan disepakati dilaksanakan setiap hari rabu. Sekarang dari pedagang yang awalnya hanya menjual barang makanan pokok, sekarang pakaian, sepatu, jajanan juga mewarnai dan menghiasi hiruk pikuk pasar embung karung yang hampir sama dengan pasar-pasar lain secara umum.
Saat ini, kondisi pasar tersebut kurang begitu nyaman, disebabkan karena genangan air bekas hujan masih terlihat disana-sini,  hal itulah yang terkadang menyebabkan orang-orang malas untuk ke pasar al-hasil pedagangnya bisa saja barangnya kurang laku sampai mengalami kerugian.

Oleh karena itu warga berharap pemerintah bisa melirik pasar tersebut walau hanya sekilas mata, sehingga ke depan pasar tersebut akan menjadi pasar yang layak untuk di di gunakan baik oleh pedagang maupun pembeli untuk melakukan aksi jual beli mereka. karena di kecamatan kopang hanya ada satu pasar itu pun sangatah jauh bagi kebanyakan orang.Kami pun berharap pemerintah bisa melihat hal-hal kecil seperti ini agar warga masyarakat bisa memiliki fasilitas yang layak dan sedikit tidak akan membantu mereka untuk terdorong menuju kehidupan yang lebih maju dan lebih baik. Karena pasar ini sangatlah banyak manfaatnya.dan kami berharap pemerintah dapat menelusuri keadaan di sekitar mereka walaupun di mulai dari hal-hal kecil sekalipun. [] - 05
Penulis           : Team IV Anggota Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang
Anggota          : Bq.Inanda, Amdiani, Bq.Purwa, Mila, Ratna dan Risna