Pada saat itu bapak haji Saleh membawa segenggam tanah yang telah dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari desa kelahirannya desa Opal dengan tujuan agar masjid Al-Badawi terhindar dari berbagai perihal buruk. Setelah dipindahkan, masjid Al-Badawi sering direnovasi, namun khusus mimbar (tempat imam memimpin sholat berjama’ah) tetap dibiarkan seperti sediakala, sehingga batu-bata yang digunakan pada saat pertama kali dibangun masih utuh tidak pernah diganti. Konon pernah beberapa kali dicoba untuk diperbaiki, namun ada saja kendala/kejadian yang diyakini oleh beberapa tokoh agama dan masyarakat sebagai pertanda bahwa mimbar tersebut tidak boleh dirubah.
Hal inilah yang menjadi alasan sampai saat ini mimbar masih berbentuk seperti bentuk ketika pertama kali dibangun. Menurut keterangan narasumber, almarhum bapak TGH. Maulana Syekh Abdul Majid semasa hidupnya seringkali ketika pulang dari musafirnya, beliau menyempatkan diri untuk mampir menunaikan sholat di masjid Al-Badawi, selain itu beliau juga sering diundang memberikan taushiah dan bercerita tentang sejarah dan karomah masjid Al-Badawi yang menurut pengetahuan beliau konon sering disinggahi oleh para wali untuk melakukan Shalat berjama’ah disana, karna cerita beliaulah para warga dari daerah-daerah luar dusun Pengkores berbondong-bondong berkunjung menuju masjid Al Badawi untuk Shalat dan melaksanakan i’tikaf disana.
TGH. Maulana Syekh Abdul Majid juga pernah menyampaikan cerita tentang adanya sebuah telaga yang ditumbuhi oleh bunga Tunjung (Teratai) yang selalu mekar dan tidak pernah kuncup di depan masjid Al-Badawi. Menurut narasumber selain cerita tentang para wali yang sering sholat di sana, konon katanya sering terjadi hal-hal gaib, seperti kisah Amaq Alin, Marbot (penunggu masjid) yang pernah dikagetkan oleh seorang nenek yang menggigitnya ketika dia sedang tidur diteras masjid, dan cerita amaq Uji, seorang paranormal yang pernah melihat sosok besar berjubah putih berpesan kepadanya untuk memercikan air suci disekeliling masjid.
Begitulah sejarah tentang masjid tua yg telah berdiri selama puliuhan tahun silam, dengan semua cerita mistisnya. "Namun semua kembali kepada kita sebagai hamba Alloh yang beriman. Masjid adalah rumah Allah, tempat yang dibuat manusia untuk beribadah kepadaNya, maka jika ada kisah maupun cerita tentang hal-hal ghaib yang terjadi, semua itu atas kehendak Alloh. Dan kita sebagai hambanya wajib percaya dan mengimani bahwa hal-hal ghoib itu benar adanya. Namun jangan sampai kita menjadikan mahluk ghaib menjadi sekutu-sekutu Alloh.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah kemistisan masjid Al-Badawi ini, sehingga tujuan Ibadah kita tidak menjadi melenceng dari garis yang telah ditetapkan Alloh dan RosulNya. Insya Alloh [] - 05
Penulis : Tim I Jurnalis Cilik SMPN 3 Kopang an.Elis Novitasari, Husnul Khotimah Nuning Ayu Resma, Susi Lastia Elmaya, dan Rainanda Ade Sukma.
