Tawuran antar pelajar, keberutalan geng motor, ataupun balapan liar sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi, baik yang dapat disaksikan langsung di sekitar lingkungan kita, ataupun melalui media televisi. Demikian juga pada saat pengumuman kelulusan usai, sudah barang tentu luapan kegembiraan para siswa yang lulus akan diaktualisasikan dalam bentuk aksi corat-coret pakaian dan dilanjutkan dengan konvoi kendaraan yang tentunya akan mengganggu ketertiban umum dan membahayakan siswa itu sendiri. Fenomena yang terjadi pada anak bangsa bukan itu saja. Derasnya arus informasi dan komunikasi yang begitu bebas serta mudah diakses berdampak pada degradasi moral dan berimbas pada pergaulan bebas, premanisme dan pemerasan yang terjadi di mana-mana, Keadaan ini diperparah lagi oleh kasus korupsi yang semakin merajalela, pemerkosaan, pembunuhan bahkan episode video mesum oknum anggota DPR RI yang masih saja berlanjut. Apakah ini hasil pendidikan kita? Kalau tidak, ada apa dengan pendidikan kita?. Pertanyaan ini merupakan pekerjaan rumah (PR) berat yang harus dijawab oleh semua elemen bangsa khususnya bagi para guru sebagai ujung tombak pendidikan.
Profesi guru tidak sekedar dituntut pandai mengajar, pintar mentransfer ilmu kepada peserta didik yang hanya dapat meningkatkan prestasi berupa nilai (marks) pada setiap ulangan, Para guru bukan hanya diharapkan mampu mengantar siswa untuk lulus Ujian Nasional (UN), namun esensi pendidikan yang paling penting adalah guru harus mampu memberikan tauladan dan mebangun nilai-nila (values) kejujuran, kesopanan, toleransi, bertanggung jawab, respek pada diri sendiri dan orang lain kepada anak didiknya.
Disamping itu pula, anak-anak bangsa harus dibentengi dengan nilai-nilai yang sesuai dengan budaya dan kearifan lokal agar tidak ikut-ikutan meniru budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya kita. Kalau tidak, maka anak-anak bangsa akan kehilangan kendali, akan kehilangan jati diri dan akan menjadi para preman liar tanpa pedoman hidup yang merdampak pada ketidak mandirian, ketidak mampuan memecahkan persoalan hidup, berbuat semena-mena terhadap ketentraman umum yang hanya merugikan kita semua dan diri anak itu sendiri.
Penulis masih teringat dengan jelas paparan Prof. Slamet PH (Guru Besar UNY Yokyakarta) , pada perkuliahan di kelas khusus Diknas MMUGM sekitar bulan Maret 2012, bahwa untuk membentuk manusia seutuhnya, ada 2 pengembangan kualitas peserta didik yang harus dilakukan diantaranya adalah pengembangan kualitas dasar dan pengembangan kualitas instrumental.
Pada pengembangan Kualitas dasar termasuk didalamnya daya pikir, daya qolbu dan daya pisik. para guru diharapkan mampu melatih pesrta didiknya untuk berfikir kritis, kreatif, inovatif, deduktif, induktif, dan berfikir ilmiah. Para guru harus mampu memberikan ketauladanan agar peserta didik menjadi anak-anak yang beriman dan bertaqwa, memiliki rasa kasih sayang, sopan terhadap sesama, toleransi akan keberagaman, jujur dan cinta akan kebersihan, disiplin, menjaga harga diri, bertanggungjawab dan respek terhadap diri sendiri dan orang lain. Sedangkan untuk menopang kualitas daya pikir dan daya qolbu harus didukung oleh daya pisik (kinestetika) yang memdai seperti kesehatan, ketahanan fisik, stamina yang kuat.
Disamping peningkatan kualitas dasar yang tersebut di atas, maka tentu harus disertai dengan peningkatan kualitas instrumental seperti kualitas ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta olah raga sebagai kemampuan akademik agar mereka bisa memecahkan setiap persoalan hidup dan mampu bersaing di era globalisasi yang semakin ketat
Upaya ini adalah suatu pekerjaan yang tidak gampang. Lagi-lagi profesi guru dituntut memiliki kompetensi dan kapabilitas yang memadai untuk menyelesaikan persoalan pendidikan khususnya dalam merubah peri laku peserta didik. Tetapi kalau didasari dengan semangat kebersamaan dan keinginan kuat serta komitmen yang tinggi, maka semua harapan yang kita rindukan bersama akan dapat dicapai dengan mudah.
Sebelum penulis mengahiri tulisan ini, penulis mengajak kita semua untuk menjadikan peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional yang baru-baru kita rayakan sebagai momentum dalam rangka menyongsong kebangkitan pendidikan kita yang berkualitas dan berdaya saing agar mampu memecahkan semua persoalan bangsa dan dapat memenuhi harapan rakyat yaitu kehidupan yang sejahtera, tentram, damai, adil dan makmur.
Terbit, di Nurani Rakyat, Selasa, 22 Mei 2012
BIODATA PENULIS
Penulis, Guru SMPN 3 Kopang, Lombok Tengah (NTB)
Mahasiswa S2 Manajemen Kepengawasan Pendidikan MM UGM Yogyakarta.
Alamat :
Jl. Kaliurang KM. 4,5 Gang Asmorodono
No.2A Sleman Yogyakarta.